Minggu, 02 Desember 2012

Karena Da'wah tak Pernah Berjeda


Karena Dakwah Tak Pernah Berjeda

    “Bukan dakwah yang butuh kita, tapi kita lah yang membutuhkan dakwah”. Kalimat itu sering aku dengar dari rekan-rekan aktivis dakwah. Biasanya, kalimat itu menjadi penyemangat saat futur, saat kaki seolah tak sanggup lagi melangkah di jalan dakwah. Kalimat itu biasanya manjur, untuk menetralkan gejolak pemikiran yang mengarah pada ‘inad (membangkang). Namun, hari itu berbeda. Seorang rekan seperjuangan mengartikannya lain. “Dakwah itu tidak butuh kita, karena itulah saya tidak perlu terlibat. Karena dakwah tidak butuh saya.” Sebuah pernyataan pahit bagi saya.
    Astaghfirullah. Begitu mudah Allah membolak-balikkan hati manusia. Tidak ada yang menjamin seseorang beriman di pagi hari, akan tetap beriman di sore hari. Itulah mengapa Rasulullah menganjurkan kita berdoa setiap hari dengan ucapan, “Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘aladdinik.” Ya Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di dalam agama-Mu (dalam kitab Riyadhusshalihin). Hati yang mudah berubah, itulah yang kemudian melahirkan istilah: MANTAN AKTIVIS DAKWAH.
    Di jalan ini, orang datang dan pergi silih berganti. Mereka yang datang membawa bermacam harapan, sedangkan yang pergi kadang menyuarakan kekecewaan. Teori Darwin memang rekayasa, tetapi setidaknya ada hikmah yang bisa kita ambil. Dalam dakwah pun ada seleksi alam. Yang kuat imannya, dialah yang bertahan. Yang imannya lemah, ia akan tersingkir dengan sendirinya.
    Dakwah itu tidak mudah. Kita tahu itu bahkan sebelum mulai melangkah. Dakwah itu penuh pengorbanan. Itu pasti. Sampai kapan kita harus berdakwah? Pertanyaan itu mengingatkan aku pada sebuah kalimat bijak, bahwa perjuangan seorang muslim tidak akan pernah usai hingga kedua kakinya menapak di jannah-Nya. Jalan dakwah itu panjang, terjal, dan berliku. Aku yakin itu bukan ungkapan yang berlebihan karena memang begitulah adanya. Namun, “inna ma’al ushri yusra”. Selalu ada kemudahan bersama kesulitan. Selalu ada solusi bagi setiap permasalahan. Tinggal kita mau mencarinya atau tidak. Hukum relativitas berlaku. Sulit atau mudah, berat atau ringan, jauh atau dekat, susah atau senang, semua tergantung dari sudut mana kita memandangnya.
    Sejenak mungkin kita perlu istirahat, tetapi tidak berarti berhenti melangkah, melainkan hanya perlu mengurangi tempo. Jika dalam menulis kalimat perlu adanya spasi agar kata per kata dapat dipahami, maka dakwah bukanlah kalimat. Jika dalam hidup ada waktu dimana manusia terlelap dalam tidur, maka dakwah bukanlah hidup yang biasa seperti itu. Dakwah itu ibarat sebuah garis yang terus bersambung hingga mencapai ujung, tanpa spasi, tanpa jeda. Dakwah itu ibarat air, yang tidak akan pernah berhenti bergerak hingga bermuara di tempat yang tepat. Semoga hingga akhir hayat nanti, kita tetap menjadi titik-titik yang menyusun garis dan molekul-molekul dalam air tersebut hingga bermuara di surga. Aamiin.
*Di keheningan malam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar